My Words' Journey

Menghadapi Anak Yang Sedang Tantrum

11 Sep 2013 - 23:24 WIB

Jangan kasar pada anak, resikonya sudah jelas-jelas ada di depan mata. Apalagi saat anak berada dalam kondisi tertentu, seperti tantrum misalnya. Kita perlu tau cara menghadapi anak yang sedang tantrum.

Sebenarnya apa sih tantrum itu? Tantrum merupakan luapan kemarahan dan kejengkelan. Sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. Namun saat ini lebih banyak digunakan untuk mengamati tingkah laku anak yang sering meledak-ledak. Ayah dan ibu pembaca tulisanku ini ada yang pernah mengalami hal ini terjadi pada putra-putrinya?

Saya pernah beberapa kali menghadapinya. Bingung sekali saat anak saya menjerit-jerit gara-gara tidak saya belikan tas bergambar Barbie sesuai keinginannya. Padahal saat itu kami sedang ada di mall. Malu? Jelas iya lah, seluruh pengunjung mall seakan-akan menonton kami berdua.

Lalu apa yang saya lakukan waktu itu? Pertama saya masih membujuknya dengan perlahan-lahan. Nanti saja kalau ibu sudah ada rejeki tambahan. Tas itu harganya ratusan ribu sih, terlalu mahal untuk sebuah tas sekolah. Saya coba bujuk dengan tas lain yang tak kalah bagusnya. Yah, yang gambar Barbie juga tapi tiruan gitu. Eh rupanya anak saya tak tergoyahkan. Dia tau rupanya membedakan tas yang benar-benar bagus dengan versi tiruannya. ;)

Berhubung bujukan demi bujukan tak kunjung berhasil, pelan-pelan saya mengajaknya menjauhi counter tas itu. Namun bukannya menurut dia malah menjerit-jerit dan duduk di lantai sambil berputar-putar (ngosek-ngosek kalau orang Jawa bilang). Tertegun juga saat menghadapi hal ini. Tanpa pengetahuan yang cukup kala itu, menghadapi anak tantrum justru membuat saya bertambah emosi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, segera saya tinggalkan dia. Berlagak mau pulang agar dia mau menurut. Trik ini lumayan berhasil, meskipun anak saya berjalan di belakang, terus mengikuti saya yang berjalan menuju parkiran untuk pulang. Tetap sambil nangis menjerit-jerit sih, jadi kami masih tetap menjadi fokus perhatian orang-orang yang lalu lalang di mall tersebut.

Apa sih yang perlu kita ketahui tentang tantrum itu sendiri?

Tantrum sebenarnya proses yang dialami oleh hampir semua anak di rentang usia 1 hingga 3 tahun. Tak jarang anak berusia 5 atau 6 tahun pun masih mengalaminya, tergantung proses pengendalian emosi yang diajarkan oleh orang tuanya. Saat tantrum seperti itu, sebenarnya mereka berusaha menunjukkan eksistensi, proses menonjolkan sisi individualitasnya. Harus dituruti keinginannya, tak mau ada penolakan. Saat itulah anak ingin menjadi pusat kontrol. Keinginannya untuk mengeksplorasi sekitar (sesuai dengan berbagai hal baru yang dialaminya) membuatnya ingin menjadi pengendali orang-orang yang ada di sekitarnya. Tentu saja yang pertama berusaha dikuasainya adalah orang tuanya.

Asal tau saja, seringnya anak itu tantrum kalau pas ada orang tuanya. Mereka melakukan itu untuk menunjukkan penolakan, menuntut sesuatu, atau bahkan seperti ingin diakui. Nah, bagaimana cara menghadapinya?

Yang pertama, alihkan perhatiannya. Dengan membahas terus menerus sumber tantrumnya, anak justru akan makin meradang. Saat anak ribut dan histeris ingin tas Barbie tadi, bila sudah tak berhasil membujuk dengan seribu satu kata, bisa dicoba mencari hal-hal di sekeliling kita untuk mengalihkan perhatiannya. Misalkan ada pak satpam lewat, bisa saja kita minta padanya untuk memperhatikan pak satpam itu. Penjaga toko yang keren lah, tidak pernah menangis lah, penjaga keamanan yang sayang anak, dan sebagainya.

Selain itu, bila memungkinkan berikan barang pengganti yang menyebabkan anak tantrum. Saat keukeuh ingin tas Barbie, kita bisa secara sambil lalu seakan-akan melihat barang lainnya yang sama menariknya. Tentu saja di sini dibutuhkan pengetahuan orang tua tentang barang-barang yang disukai oleh anaknya. Misal kalung cantik bergambar Barbie yang harganya terjangkau. Bisa dicoba membujuknya dengan cara itu. So far itu berhasil saat saya praktekkan. ;)

Yang paling penting, kenali peristiwa maupun saat-saat tertentu dimana anak potensial tantrum. Tak hanya menghindarinya, namun kita juga harus berusaha untuk menstabilkan kadar emosi anak kita dari hari ke hari. Lantas kadar keberhasilan pengendalian tantrum itu bisa dilihat dari mana? Benarkah kita berhasil atau sekedar timbul rasa takut anak terhadap respon kita di saat ia tantrum?

You know what happened to your kids, find best ways to get their emotional progress. Good luck moms and dads :)


TAGS   #30HariNonStopNgeblog / parenting / anak / tantrum /


Blog Owner

Uniek Kaswarganti
uniek_s@yahoo.com

Recent Post

Recent Comments

Archive