My Words' Journey

Ibu : Refleksi Kebahagiaan Maksimal

6 Nov 2014 - 09:24 WIB

“Uti…. mau berangkat latihan Pramuka nih, sanguni donk…” (red : sanguni berarti minta uang saku)

“Aku mau bobok sama Uti, Uti ndak usah pergi-pergi yaaa…”

“Uti nanti oleh-olehnya, jangan lupa.”

Widih, riuh sekali ini ya, sepertinya ada seorang nenek yang hobinya dipalakin cucunya ;)

Iya, ibu saya memang sehari-harinya selalu digerecokin cucu-cucunya. Ya kedua anak saya yang super lincah itu deh tersangkanya ;) Berhubung dari pagi hingga sore kedua anak ini saya tinggal pergi bekerja, walhasil nenek / utinya lah yang harus ikhlas menanggung kehebohan tak terkira ini :D

Meskipun kedua anak saya ini berjeda umur sekitar 5 tahun, tak berarti dunia bisa aman sentosa dan tentram ;) Adaaa saja hal-hal kecil yang bisa membuat mereka berdua berselisih. Bukan salah satu saja sih yang hobi iseng. Dua-duanya super jahil. Saat si kakak asyik menulis ataupun membaca koleksi bukunya, si adek bakalan gegap gempita merusuh. Ambil buku kakaknya, umpetin, dan jejeritan tak keruan kala si kakak sudah mulai keluar tanduknya. Begitu pula ketika si adek lagi hectic dengan mainannya, si kakak tak mau ketinggalan. Umpetin mainan adek, ngrebut mainan yang sedang dipegang adeknya, dan masih banyak lagi trik-sempurna-bikin-adek-nangis. Pheewww…..

Walhasil suasana rumah pun bakalan meriah. Bukan hanya kedua anak saya saja yang heboh. Uti pun tak mau kalah. Heboh melerai yang berakhir dengan kompaknya mereka bertiga menjadi trio terhebat di kampung kami. Ada suara 1, suara 2 dan suara 3 dalam berbagai kunci yang berbeda. Asyik deh pokoknya.

Saya jadi ingat saat-saat sebelum saya memutuskan kembali ke rumah ibu lagi pasca pernikahan. Sesaat setelah menikah di tahun 2003 saya memang sudah tak lagi tinggal bareng ibu. Mengikuti anjuran beliau yang menyarankan saya agar tinggal sendiri setelah menikah. Biar mandiri dan tidak mengalami intervensi orang tua masing-masing lagi.

Tentunya saya setuju banget dong. Saya juga mau mandiri seperti ibu saya yang dari muda terbiasa hidup susah. Ibu setia mendampingi bapak yang sungguh-sungguh tak punya apa-apa saat menikah dengan ibu tahun 1966. Bahkan dalam kondisi ekonomi yang super sulit, ibu masih harus berlapang dada menerima adik-adik dari pihak bapak yang ‘ngenger’ dalam keluarga kami. Sabaaar banget ibu menghadapi adik-adik iparnya yang notabene banyak tingkah. Dari mulai malas belajar, sering membolos, bahkan pacaran melulu. All thumbs up for you, Mom.

Namun apa mau dikata, sepertinya saya kurang tabah saat salah satu prahara hidup terbesar dalam hidup menghantam. Masih terkenang sekali hingga kini saat saya menelpon beliau dengan bersimbah air mata. Sepanjang hidup saya jarang banget curhat dengan ibu, bahkan saat dulu mau putus sama pacar dan menangis dramatis di kamar, ibu pun tau kalau saya tak mau diinterupsi. Mata bengkak pun beliau biarkan tanpa tanya terucap selama saya memang belum mau curhat. Mungkin tipe mengisolasi diri saat sedang berduka inilah yang saya pelajari dari beliau. Beberapa kali masalah besar menerpa dan saya masih bertahan untuk diam hingga akhirnya di tahun 2009 saya sudah tak kuat lagi. I need your shoulder to cry on, Mom *huuuu…penonton kecewa, cengeng ni yeee…

Jadi ya gitu deh, akhirnya saya kembali tinggal bersama ibu. Tak hanya datang sorangan wae loh ini, satu rombongan orkes saya bawa serta. Ya suami, ya si sulung dan si adek yang saat itu masih di perut. Dan sejak itu, ibu saya rela berbagi tempat dan kehebohan bersama saya. Hehehee… dasar ya ini, sejak kecil dan remaja bandel, begitu sudah beranak pinak masih saja bikin kehebohan untuk beliau. Muaaahh dulu dong Bu ;)

88ea95498eaae4fe611b80f14800ad3b_img03032-20120819-101663d111c3ffcd77eb83952b8eb1be852a_img03035-20120819-1016

Foto di atas saya ambil saat Lebaran 2 tahun yang lalu.

Sering ada tudingan tajam ya saat anak yang sudah punya anak kembali ikut orang tuanya. Ujung-ujungnya pasti urusan titip menitip cucu. Saya sih sebenarnya tidak berniat begitu karena sudah mempersiapkan ART yang akan mengurusi anak-anak saya selama saya tinggal bekerja. Tetapi namanya tinggal serumah ya, tentu saja ibu saya akan mengambil alih urusan anak-anak dari ART saya. Jadi akhirnya ART saya hanya handle urusan cuci seterika dan beberes rumah.

Jujur saja memang merasa lebih ayem saat tau ada ibu saya yang masih menyempatkan diri untuk kontrol anak-anak di rumah. Kadang-kadang nggak enak hati juga saat anak-anak saya aktif banget dan sering membandel di hadapan utinya. Yah, romantika tinggal bersama orang tua deh. Ada beberapa beda prinsip mendidik yang biasa mencuat. Misalnya saja saya sudah menegaskan pada anak-anak untuk tidak melakukan hal A, B dan C, dan oleh neneknya semua itu diperbolehkan. Kadang sudah saya sampaikan keberatan itu, tapi begitu hari berikutnya terulang lagi saya sudah bingung mau bicara apa lagi. Tetiba ingat saat saya terisak-isak di telpon dulu itu. Baiklah ;)

f04698212fc534653c88e61586d7fc01_bromoSosok ibu merupakan refleksi kebahagiaan maksimal bagi saya. Bahkan setelah melampaui berbagai hal berat dalam hidupnya, ibu saya masih bisa enjoy dan menikmati segala sesuatu dengan bahagia. Saat menjadi single parent setelah bapak wafat, ibu masih memiliki tanggungan untuk membiayai kuliah saya dan menghidupi alm. abang saya yang dulu tak kunjung memiliki pekerjaan tetap meskipun sudah berumur. Nah padahal nih yaaa… saya itu bandelnya gak ketulungan waktu kuliah. Bukannya rajin nongkrongin dosen malah ngecengin puncak-puncak gunung dan blusukan kemana-mana *Pak Jokowi kalah start kan ;)

Ibu bahkan tak pernah menegur saya yang sering bepergian. Saya pun memahami pada akhirnya bahwa beliau mengajarkan cara berpikir yang demokratis namun penuh tanggung jawab. Tanpa intervensi pada urusan kuliah, saya sadar sendiri bahwa sudah seharusnya saya meluruskan kembali niat saya kuliah. Maka terengah-engah lah saya mengejar IPK paling tidak 3.0 setelah bertahun-tahun langganan ‘nyaris Nasakom’ ;) Hasrat untuk segera bekerja dan membantu ibu membuat saya sering melongok kolom lowongan pekerjaan yang ada di koran. Rata-rata syaratnya punya IPK min. 3.0 blais tenan kalau saya cuma seadanya aja nih, pikir saya waktu itu.

Alhamdulillah berkat tekad membara dan ingin membuat ibu bangga, saya berhasil lulus setelah hampir 6 tahun kerasan di kampus. Dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, semua saya lalui dengan langkah-langkah yang sungguh tidak mudah hingga akhirnya kini saya sudah ‘kerasan’ di tempat saya bekerja sekarang. Lagian umur juga sudah tidak memungkinkan untuk berpolah tingkah seperti jaman muda dulu, pindah sana pindah sini. Bukan masalah loyalitas pada perusahaan loh ya ini. Loyalitas itu kan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan yang ditawarkan.

839bab2e2f9fff91c4c4f0889ecc189d_granny-metalDan kembali saya salut kepada ibunda tercinta. Dari beliau lah saya belajar untuk selalu ceria dan bahagia no matter happened. Sama dengan beliau yang sering gabung menjadi trio terhebat di kampung tadi ;) setelah badai berlalu semua akan kembali tenang. Ibu saya mengajari cara terhebat untuk cepat pulih dari segala macam luka. Benar sekali apa kata orang, hati ibu itu seluas samudera saat menghadapi anak-anaknya. Saya mau banget nantinya bisa menjadi seperti utinya anak-anakku ini. Salam metal, Bu :D

I love you, Mom… Love you to the bone… Bahkan bila hingga saat ini saya belum bisa memberikan apa-apa untuk ibu, saya berharap luasnya samudera cintamu tak akan pernah berkurang.

Dan saya rasa postingan ini harus segera disudahi. Sudah terlalu panjang dan terus terang bikin meja saya kotor dengan berlembar-lembar tissu yang membasah. Semoga ibuku dikaruniai umur yang barokah, sehat selalu dan happy bersama anak cucu. Begitu juga dengan ibu sahabat blogger semua, bagi yang ibunya masih ada, mari kita doakan beliau agar senantiasa bahagia. Bagi yang sudah tak memiliki ibu, mari doakan juga almarhumah. Bukankah doa anak yang sholeh akan selalu didengar olehNya?

023b74dd1b9979e9f5c80dae1007ac12_img05928-20130608-1509

Love mom & my sibling, ki-ka : Mba Ayu, Ibu, saya, Mb Atiek

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan:Hati Ibu Seluas Samudera



TAGS   Kontes Unggulan / Hati Ibu Seluas Samudera /


Blog Owner

Uniek Kaswarganti
uniek_s@yahoo.com

Recent Post

Recent Comments

Archive