My Words' Journey

Ramadhan 1436H Yang Penuh Pembelajaran

23 Jun 2015 - 15:35 WIB

Kenapa ya setiap kali puasa itu selalu bertepatan dengan musim panas? *bertanya pada payung tetangga

Bukan bermaksud mengada-ada, tetapi yuk coba kita ingat-ingat, kapan sih kita pas bulan Ramadhan itu dikasih bonus hujan biar adem gitu?

Saya keterlaluan sepertinya ya, kurang mensyukuri hidup dan rahmat yang diberikan Allah. Masih bisa ketemu Ramadhan 1436 H malah justru nagih-nagih hujan di bulan puasa. Di lain waktu ada yang dapet hujan terus menerus, debit air meninggi dan jadi was-was plus menghadapi masa-masa sulit, eehhh lha kok saya malah lancang sekali mempertanyakan soal hujan di bulan Ramadhan.

Dan akhirnya saya tetap berada di sini, iya di sini. Di bulan puasa yang penuh dengan terik sinar matahari. Di kota Semarang yang oleh banyak orang pendatang dikatakan sebagai kota yang panasnya kejam luar biasa.

Masih mau menghujat lagikah saya?

Enggak kok, saya nggak mau lancang menghujat musim. Mungkin diberi panas seperti ini agar makin ditinggikan tingkat kesabaran dan ketabahan, sekaligus pahala kali yaaa… Aamiin. Coba kalau diberi panas sedahsyat ini apa masih mau bersyukur makhluk seperti saya ini.

Panasnya cuaca di Ramadhan 1436 ini buat saya penuh dengan tantangan loh. Kalau biasanya saya ‘aman’ dari panas teriknya matahari dengan ngendon di dalam ruang kantor yang adem, kali ini saya harus ‘goyang ngebor’ barengan debu dan para pekerja lapangan. Mereka yang setiap kali menyatakan iri pada saya karena hidup dengan ‘mudah’, tak seberat mereka yang terpaksa berpanas-panas setiap hari demi sesuap nasi.

Halah, orang yang suka iri itu menandakan ketidakmampuan batinnya menerima takdir Ilahi. Itu pendapat saya. Dulu. Duluuuuu banget sebelum saya terpaksa berjibaku dengan panas yang sama. Panas yang setiap hari membakar kulit mereka para pekerja lapangan yang tadinya tak pernah terpikirkan oleh saya.

Hari ini, tanggal 23 Juni 2015, salah satu hari yang paling menegangkan untuk saya.

Kenapa?

Ada AUDIT.

Yaelah, kirain apaan.

Jangan salah loh, dear lovely friends, untuk saya yang saat bekerja harus berhadapan dengan perijinan dan keabsahan dokumen, saat-saat seperti ini sudah ibarat berada di ujung tanduk. Yang melakukan audit (pihak luar yang mendapat amanah dari pemerintah) maunya kan segala sesuatu yang berjalan di perusahaan sesuai dengan ijin dan kapasitas yang telah ditentukan. Namun sebaliknya bagi pengusaha yang diaudit, gimana caranya kan ya laju perdagangan tidak terhadang perijinan.

Yang ketiban pusingnya ya bawahan macam saya ini yang mau tak mau harus mensinkronkan fakta dengan dokumen. Nggak usah dijelasin panjang lebar lah ya bagaimana proses sinkronisasi itu harus saya lalui lewat jalan yang berputar dan berliku. Saya lelah. Lelah dan lapar nih *ditabok malaikat

panas aja masih narsis :)

Selain urusan pernak-pernik dokumen tadi, saya juga harus mendampingi petugas / auditor ke lapangan. Duuuhh… debunya segunung banget deh. Mau enggak ndampingi auditor, ntar yang di lapangan pada njelasin yang tidak sesuai dengan dokumen kan malah repot. Ya jadilah harus ‘turun gunung’ nih.

Luar biasaaaa….

Apanya?

Ya panasnya itu yang luar biasa. Allah memang hebat bisa menciptakan panas matahari yang sanggup membuat kering cucian hingga menggosongkan kulit manusia. Manusia saja yang suka mengeluh kepanasan ya. Iya, kayak yang nulis postingan ini nih contohnya. Bukannya mensyukuri masih bisa berkarya di bawah panas terik matahari, dan tidak batal puasanya (penting banget inih disampaikan), malah mengeluh heboh sana sini. Cuma gara-gara panas dan debu. Iya… saya memang keterlaluan orangnya.

Hari ini, tanggal 23 Juni 2015, adalah hari kedua rangkaian audit di perusahaan tempat saya bekerja. Masih beberapa hari lagi saya harus berjibaku dengan keunikan dunia berjudul AUDIT ini. Audit yang menentukan nasib perusahaan yang telah hampir sepuluh tahun menaungi hidup saya, yang notabene support terhadap sebagian besar pemasukan ke dompet dan rekening saya.

Lalu kalau hari ini saya harus berpanas-panas, tidak bisa tidur siang, merasa terpanggang mentari seperti para pekerja lapangan yang dulu tidak pernah saya pikirkan itu, tanda-tanda apakah ini?

Pada Ramadhan 1436 H yang penuh tantangan ini saya mendapatkan banyak perenungan. Beneran nih. Coba, masih pada ingat kan kalau ‘tidurnya orang puasa itu adalah ibadah’? Bagi yang tidur agar terhindar dari segala keburukan itu aja dapat pahala, apalagi saya yang kudu berpanas-panas demi sesuap nasi. Sama dengan para pekerja lapangan yang dulu tidak pernah saya hiraukan itu. Sekarang saya pun mengalami panas yang sama dengan mereka, meskipun panasnya tidak sepanjang jam kerja seperti mereka. Paling-paling cuma sekitar 1 jam saja.

Panas dan debu, kombinasi yang luar biasa sebagai alasan mempermudah iftar awal. Gitu ya?

Saya tiba-tiba malu. Malu pada petugas kebersihan yang bekerja di perusahaan yang sama dengan saya. Laki-laki separuh baya yang setiap hari mengayuh sepedanya untuk berangkat bekerja dari Tegowanu menuju Semarang (lebih dari 1 jam lah waktu yang diperlukan untuk bersepeda), tidak pernah makan siang karena harus berpuasa sepanjang hari. Bergaya jagoan ya si bapak itu puasa terus gitu?

Bapak petugas kebersihan tadi harus berpuasa karena gajinya yang jauh di bawah UMR membuat dia harus menghemat. Salah satu gerakan hemat yang bisa dilakukan ya dengan berpuasa itu.

Kira-kira masih pantas nggak sih buat saya untuk berkeluh kesah tentang segala panas di bulan puasa ini?

Kalau saya jawab masih pantas, berarti saya memang tidak punya perasaan. Tidak punya kemauan untuk belajar dari pengalaman hidup, baik pengalaman saya sendiri maupun orang lain.

Duh Gusti, ampuni saya untuk semua keterbatasan saya sebagai manusia ini.

 


TAGS   puasa / sabar /


Blog Owner

Uniek Kaswarganti
uniek_s@yahoo.com

Recent Post

Recent Comments

Archive