My Words' Journey

Buru-buru Layu

26 Feb 2015 - 11:03 WIB

“Gilak, hari ini panas banget ya, May. Kamu barengan aku aja deh daripada panas-panas nunggu angkot.”

first loveDuh… bagai tersiram es blewah segalon rasanya. Segeeerrr dan manis ;) Akhir-akhir ini Fahri memang cenderung bikin aku keGRan. Yang lalu lalu sih dia biasa aja ke aku. Tapi sejak sebulan ini kelakuannya rada beda. Hobi banget minjem PR dan ngajakin ke KANTIN. Iya bener ke kantin loh. Satu-satunya tempat yang kukira enggak bakalan dia ajak aku ke sana.

Fahri itu peliiiitt banget orangnya. Boro-boro ngasih traktiran, tipex nya dipinjem aja enggak boleh.

“Pinjem itu kalau barangnya tidak berkurang. Kalau ini apa namanya? Mintak kan?”

Hih masih sebel banget kalau ingat itu. Tapi ajakan Fahri untuk pulang bareng tadi kayaknya terlalu menarik untuk dilewatkan. Duduk di boncengan motor Fahri memang jauh lebih nikmat daripada harus nungguin angkot di bawah terik matahari. Sembari ndengerin ocehannya yang ngalor ngidul nggak jelas. Tak apalah, yang penting Fahri anterin aku sampai ke rumah.

Di sekolah Fahri juga jadi ekstra perhatian. Bahkan kadang-kadang dia komenin parfum yang biasa kupakai ke sekolah.

“Baunya seger ya May parfummu, sampai siang kok nggak ilang-ilang. Pake sinyongnyong yak?” *plaaaakk…

Hampir di setiap jam istirahat, cowok langsing yang kalau dilihat dari seberang lautan tampak seperti Leonardo di Caprio itu nyamperin melulu. Kadang minta diajarin matematika, lain kali minta dikasih contekan PR Bahasa Inggris, atau bahkan sekedar ngobrolin ekskul yang kuikuti.

Tatapan matanya itu loooh… Matanya yang besar dan bening itu kalau menatap kok bikin hati kebat-kebit. Duh, aku kan belum pernah punya pacar. Apa memang begitu ya cara cowok kalau suka ama cewek? Mau tanya ke mama kok malu, mau curhat ke Destin sahabatku kok ya gimana gitu.

“Akhir-akhir ini kamu sering kayak orang linglung, May. Kenapa?” tanya Destin padaku suatu hari.

Ehmm…gimana ya, bilang nggak sih ke Destin? Destin enggak sekelas denganku, jadi dia sepertinya tidak tau gelagat Fahri padaku. Bahkan saat aku main ke rumah Destin di hari Minggu, Fahri yang mengantarkanku ke sana pun kusuruh cepat-cepat pulang biar Destin enggak tau. Untunglah Fahri nurut, jadi sementara ini rahasiaku aman.

“May…”

Eh, Destin masih ada di depanku ternyata. Dia memandangku dengan kesal.

“Kamu itu diajak cerita kok bengong aja sih. Dengerin dooonkk…” sungut Destin sambil mendelik.

“Iya Des, ada apa?”

“Tau nggak kamu kalau ada temen sekelasmu yang ternyata naksir aku. Kemarin tiba-tiba dia nembak aku loh, May. Nggak tau juga darimana dia tau alamat rumahku. Keren juga sih orangnya. Lumayan nih mumpung aku habis putus sama Doni boleh dooonkk punya cowok lagi.” Destin tampak berseri-seri seperti es krim stroberi yang seger banget itu.

“Emang siapa Des namanya?” tanyaku sambil lalu. Sebenarnya aku nggak begitu pengin tau kisah cinta Destin. Dia itu sih pacarnya gonta ganti melulu. Dasarnya Destin cantik, ya gampang aja dapet cowok. Nggak kayak aku :(

“Namanya Fahri, May. Dia itu yaaa…blaa bla blaaaa….”

Selanjutnya entah kemana pikiranku, segala ucapan Destin seperti mengambang di udara. Aku cuma pengin buru-buru pergi dari hadapannya, sama seperti cintaku pada Fahri yang buru-buru layu bahkan sebelum sempat berkembang :’(

Artikel ini diikut sertakan dalam “My First Love Giveaway”Aprint Story

Kira-kira ada yang tau kah siapa sebenarnya May tadi? ;) Jika ada yang menganggap May itu adalah saya, berarti yang nganggep tadi itu terlalu obsesif dengan saya ;)


TAGS  


Blog Owner

Uniek Kaswarganti
uniek_s@yahoo.com

Recent Post

Recent Comments

Archive